Logo

Pendidikan Karakter Islam SMP IT Bunayya Pekanbaru

Al-Quran Itu Petunjuk
Pentingnya Pendidikan Islam
Umat Islam secara normatif meyakini bahwa pendidikan sangat penting bagi manusia, tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Ditemukan sejumlah ayat dan hadis menjelaskan betapa tingginya posisi orang-orang yang menekuni pendidikan dan bidang keilmuan. Sayangnya, konsen ini baru pada tataran normatif, belum banyak terwujud dalam aksi nyata.
Umumnya ahli pendidikan Islam sepakat bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Muslim sehingga terwujud manusia yang bermoral atau berakhlak mulia. Pendidikan harus mampu mewujudkan cita-cita Islam yang mencakup pengembangan potensi rohani dan jasmani manusia sehingga membentuk manusia beriman dan berilmu secara seimbang.
 Perlu diberi catatan di sini bahwa keimanan dan ketakwaan manusia, sebagaimana yang ingin diwujudkan dalam pendidikan Islam hendaknya tidak diukur atau dilihat secara sempit. Keimanan dan ketakwaan seseorang tidak dapat diukur hanya pada hal-hal yang sifatnya legal formal, seperti pelaksanaan ibadah salat, puasa dan haji atau rajin menghadiri majelis taklim atau kumpulan zikir dan seterusnya. Demikian pula tidak bisa diukur dari hal-hal yang bersifat sangat simbolistik, seperti panjangnya jenggot laki-laki, panjangnya jilbab perempuan atau seringnya menggunakan label-label syariah dan sebagainya.
Hakikinya, indikasi utama keimanan dan ketakwaan seseorang tercermin pada seberapa besar empati dan komitmen seseorang pada upaya-upaya transformasi dan humanisasi di dalam masyarakatnya atau dalam term Al-Qur’an disebut sebagai amar ma’ruf nahy munkar. Upaya-upaya tersebut mencakup semua upaya mentransformasikan diri, keluarga  dan masyarakat ke arah yang lebih baik, lebih positif dan lebih konstruktif. Misalnya, membangun lingkungan yang bersih, baik secara material maupun moral; menolong fakir-miskin; membantu anak-anak dan perempuan terlantar serta kelompok rentan lainnya; mengentaskan kemiskinan; menghindari perilaku korupsi; menjauh dari semua tindakan diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan dengan dalih apa pun, termasuk kekerasan yang menggunakan alasan agama.
Upaya-upaya humanisasi  juga mencakup aspek yang sangat luas seperti upaya edukasi, publikasi dan advokasi yang kesemuanya dilakukan untuk mengubah seseorang atau masyarakat menjadi lebih manusiawi. Termasuk juga di dalamnya upaya-upaya merawat lingkungan semesta agar planet ini tetap nyaman dihuni oleh generasi mendatang.
Agar pendidikan Islam dapat mewujudkan manusia yang beriman dan bertakwa dengan sejumlah indikasi yang disebutkan tadi, pendidikan hendaknya menyentuh dan mengaktualkan ketiga aspek penting dalam diri manusia secara bersamaan, yakni aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Inilah problemnya, karena dalam realitas sosial di masyarakat pendidikan Islam pada umumnya baru menyentuh aspek kognitif, dan itu pun belum optimal.
 Akibat dari pendidikan yang hanya mementingkan sisi kognitif belaka adalah seperti yang dewasa ini kita saksikan. Pendidikan Islam pada umumnya hanya mewujudkan manusia-manusia yang mengerti Islam, tetapi kurang mampu atau bahkan tidak mampu menginternalisasikan atau menghayati makna hakiki ajaran Islam, apalagi mengimplementasikan pengetahuan keislamannya itu ke dalam perilaku islami sehari-hari.
Konsekuensi logis dari pelaksanaan pendidikan Islam yang demikian adalah munculnya ribuan sarjana Muslim tetapi belum memberikan kontribusi positif yang optimal bagi bangunan peradaban Islam atau ketamaddunan Islam masa kini. Dengan ungkapan lain, para sarjana Muslim tersebut belum sepenuhnya mampu memberikan solusi yang signifikan terhadap berbagai problem sosial kontemporer yang dihadapi masyarakat Muslim dewasa ini.
Karena itu, ke depan pendidikan Islam harus mampu mengubah dan mengembangkan ketiga potensi dasar manusia: pengetahuan, sikap dan perilaku ke arah lebih baik, lebih positif, lebih arif dan lebih manusiawi.
Intinya, pendidikan Islam harus mampu menajamkan pikiran, membuat seseorang menjadi lebih kritis dan rasional serta berwawasan luas dan terbuka. Pendidikan Islam harus mampu menghaluskan perasaan: mengubah sikap manusia ke arah lebih peka dan peduli, lebih inklusif, lebih toleran, lebih pluralis, dan lebih humanis serta lebih peduli pada kelestarian lingkungan dan alam semesta. Dan yang terakhir, tapi tidak kurang pentingnya adalah pendidikan Islam harus mampu menumbuhkan kearifan: mampu mengubah perilaku manusia ke arah lebih santun dan bermoral. Ringkasnya, tujuan akhir pendidikan Islam adalah membentuk manusia berbudi-pekerti luhur atau berakhlak mulia.

Posting Komentar

0 Komentar