Tak Biasa, CS Sekolah Jadi Inspektur Upacara HUT RI ke-81
- Diposting oleh : SMPIT Bunayya Pekanbaru
- pada tanggal : Agustus 20, 2026
PEKANBARU — Ada yang berbeda dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Bunayya Pekanbaru, Senin (17/8/2026).
Biasanya, posisi inspektur upacara diisi oleh Ketua Yayasan Insan Mulia Terampil. Namun kali ini, posisi tersebut diberikan kepada sosok yang sehari-hari justru berada di balik layar: Sumiati, petugas cleaning service (CS) sekolah.
Momen itu sontak membuat suasana upacara menjadi berbeda.
“Inspektur upacara memasuki lapangan upacara,” suara pembawa
acara terdengar lantang.
Instrumen pun mulai berbunyi. Para peserta upacara berdiri
tegap. Namun beberapa detik berlalu, sosok inspektur upacara belum juga
terlihat menaiki podium.
Peserta mulai saling menatap.
Tak lama kemudian, dari ujung jalan sekolah terlihat sebuah
mobil berjalan perlahan menuju lapangan upacara. Mobil tersebut merupakan
kendaraan Ketua Yayasan Insan Mulia Terampil.
Pintu mobil dibuka oleh sekretaris yayasan. Dari dalam
mobil, keluar Sumiati—yang akrab dipanggil Bu Sum oleh para
guru—didampingi Ketua Yayasan dan Bendahara Yayasan.
Bu Sum kemudian diberikan penghormatan. Ia membalas
penghormatan tersebut sebelum berjalan perlahan menuju podium upacara.
Suasana seketika menjadi hening. Meski begitu, tidak sedikit
peserta yang berbisik-bisik karena keheranan sekaligus kagum.
“CS sekolah jadi inspektur upacara?”
Pertanyaan itu barangkali muncul di benak sebagian peserta.
Namun, pagi itu bukan sekadar upacara. Ada pesan besar yang
ingin disampaikan Yayasan Insan Mulia Terampil kepada seluruh warga sekolah.
Dalam amanatnya, Sumiati menjawab pertanyaan yang mungkin
muncul di tengah peserta.
“Semua profesi terhormat selagi dia berlaku adil dan jujur,”
ujar Sumiati.
Menurutnya, peringatan kemerdekaan juga menjadi momentum
untuk belajar menghargai semua profesi. Tidak ada pekerjaan yang lebih rendah
atau lebih tinggi selama pekerjaan tersebut dilakukan dengan jujur dan penuh
tanggung jawab.
Hari itu, seorang petugas cleaning service mendapat
kesempatan berdiri di podium, memimpin upacara, dan menyampaikan amanat
kemerdekaan kepada para siswa, guru, dan seluruh warga SIT Bunayya Pekanbaru.
Sumiati kemudian mengingatkan para siswa bahwa pekerjaan
yang dilakukan para CS sekolah sering kali tidak terlihat, tetapi memiliki
peran penting dalam menunjang aktivitas belajar.
“Jauh sebelum kalian datang ke sekolah, kami para CS sekolah
sudah mulai datang dalam kegelapan untuk membersihkan sekolah kalian, supaya
kalian bisa belajar aman dan nyaman,” ujarnya.
Ia mengatakan, pekerjaan sebagai cleaning service mungkin
terlihat sederhana. Namun, jika lingkungan sekolah tidak terjaga kebersihannya,
proses pembelajaran juga akan terganggu.
“Memang tanpa terasa, namun jika CS sekolah tidak ada, maka proses belajar tidak bisa terlaksana karena kondisi lingkungan yang kotor,” lanjutnya.
Bu Sum sendiri bukan sosok baru di lingkungan SIT Bunayya
Pekanbaru.
Ia telah mengabdi di Bunayya sejak 2013 hingga sekarang.
Kurang lebih 13 tahun waktunya dicurahkan untuk sekolah yang berada di
bawah naungan Yayasan Insan Mulia Terampil tersebut.
Selama itu pula, ia menjalankan berbagai tugas, mulai dari
membersihkan lingkungan sekolah, berbelanja kebutuhan sekolah, memfotokopi
berbagai keperluan hingga pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawabnya sebagai
CS.
Namun pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI kali ini,
perannya berubah sejenak.
Bukan membawa perlengkapan kebersihan. Bukan pula berbelanja
kebutuhan sekolah.
Ia berdiri di podium sebagai inspektur upacara.
Menariknya, Sumiati bukan satu-satunya petugas CS yang
mendapat peran dalam upacara tersebut.
Ritawati, yang juga merupakan CS sekolah, dipercaya menjadi
dirigen paduan suara. Sementara Dede Putra Syarif bertugas sebagai pembaca teks
Proklamasi.
Pesan tentang Kesetaraan
Ketua Yayasan Insan Mulia Terampil, Dody Armawan, S.Pi.,
mengatakan, pelaksanaan upacara dengan konsep yang tidak biasa tersebut sengaja
dilakukan sebagai bagian dari pembelajaran bagi seluruh peserta didik SIT
Bunayya Pekanbaru.
Menurutnya, siswa perlu belajar bahwa setiap profesi
memiliki kehormatan masing-masing selama dijalankan dengan kejujuran dan
keadilan.
“Tujuannya untuk memberikan pembelajaran kepada seluruh
peserta upacara, terutama siswa dan siswi SIT Bunayya Pekanbaru, bahwa semua
profesi adalah terhormat selama dia berlaku adil dan jujur,” kata Dody.
Ia menegaskan, kemerdekaan bukan hanya tentang sejarah
perjuangan bangsa, tetapi juga tentang memberikan ruang dan kesempatan yang
sama kepada setiap orang.
“Semua profesi berhak merdeka, apa pun profesinya, termasuk
CS sekolah. Jadi, semua harus mendapatkan kesempatan yang sama,” ujarnya.
Pesan lain yang ingin ditanamkan kepada para siswa adalah
tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.
Menurut Dody, jabatan, pekerjaan, maupun profesi bukanlah
ukuran kemuliaan seseorang.
“Semua manusia itu sama di mata Allah SWT, apa pun pekerjaan
dan profesi kita. Yang membedakan kita di hadapan Allah adalah ketakwaan kita,”
katanya.
Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di SIT Bunayya Pekanbaru
pun akhirnya bukan hanya menjadi seremoni tahunan.
Ada satu pelajaran sederhana yang mungkin akan lebih lama
diingat para siswa: orang yang setiap hari membersihkan halaman sekolah juga
layak berdiri di podium, dihormati, dan didengarkan.
Sebab kemerdekaan sejatinya bukan hanya tentang siapa yang
berdiri paling depan, tetapi tentang bagaimana setiap orang mendapatkan
kesempatan, penghargaan, dan tempat yang sama untuk berkontribusi.